Menyelam di Pulau Karya dan Semak Daun, Kepulauan Seribu

Artikel ini ditayangkan pada 16 Juli 2012, sekitar 5 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

Kerangka besi besar sengaja ditanam di daerah perlindungan laut Pulau Karya, Kepulaun Seribu. Sebuah saung yang berdiri di tengah laut menjadi penanda lokasi penanaman karang buatan ini. Dari jumlah organisme yang menempel di kerangka besi, menunjukkan bahwa kerangka ini belum lama dipasang.

Saya sempat kesulitan turun karena pemberat saya kurang. Biasanya saya menggunakan 3 Kg pemberat, namun karena saya ingin mengurangi jumlah pemberat, saya hanya menggunakan 2 Kg. Saya akhirnya bisa turun setelah menambah sebuah timah pemberat lagi ke sabuk pemberat yang melingkar di pinggang.

Jarak pandang tidak begitu bagus, ketika saya menyelam di titik karang buatan ini, Minggu, 15 Juli 2012. Ini penyelaman saya yang ketiga, di titik Pulau Karya. Penyelaman pertama ketika bouyancy saya masih buruk karena baru saja mengambil lisensi. Pada penyelaman kedua, saat jarak pandang sedang jernih-jernihnya, saya terseret arus yang cukup kencang karena pengaruh angin timur. Pemandu saya saat itu, Pak Magat yang sudah 20 tahun menyelam, juga cukup kelelahan karena tak menyangka arusnya begitu kuat.

Di penyelaman ketiga, saya mendapat pengalaman berbeda. Menyelam masuk ke dalam kerangka besi berbentuk setengah lingkaran memanjang, yang pada kedua ujungnya terdapat dua kubah seperti kurungan ayam berdiameter sekitar 5 meter dengan lubang di bagian atasnya. Diameter pintu masuk sekitar 1,5 meter dan di dalam rangka panjangnya sekitar 10 meter dengan diameter sekitar 3 meter.

Memasuki rangka besi menuntut kestabilan bouyancy yang bagus. Saya memanfaatkan momen ini untuk melatih bouyancy saya. Perlahan saya memasuki doom tanpa menyentuh apa pun. Hup! Dengan mulus saya bisa masuk hanya dengan mengandalkan pengaturan nafas dan sedikit kayuhan kaki.

Di dalam kerangka, tak banyak yang bisa dilihat. Beberapa tanaman dan organisme memang sudah tumbuh menempel di rangka, namun masih belum banyak. Ikan badut nampak berenang menyembul dari balik tentakel anemon di dasar dan saya hanya mengamatinya.

Setelah keluar kubah, kami menyusuri karang dengan acuan reef di sebelah kiri. Tak banyak yang bisa dilihat karena kondisi karang yang kurang bagus ditambah jarak pandang yang pendek karena air keruh.

Pemandu kami, Pak Lupus, menunjuk ke sebuah sosok berwarna coklat yang melayang di antara karang. Sekilas tampak seperti batu yang tak beraturan. Ternyata seekor sotong dengan ukuran kira-kira sebesar bola American football!

Ketika kami mendekat, tiba-tiba.. srut! srut! Tinta berwarna hitam langsung disemburkan si sotong sebelum ia menghilang di balik karang.

Penyelaman di titik ini kami lakukan selama 40 menit, dengan kedalaman maksimal 20 meter dan rata-rata di 18 meter.

Setelah beristirahat selama satu jam di atas kapal Dan Sar, kami berlanjut ke daerah soft coral Pulau Semak Daun. Pulau Semak Daun memang sering digunakan sebagai daerah snorkeling karena soft coral-nya masih cukup sehat. Ini penyelaman kedua saya di titik ini.

Dibandingkan dengan Pulau Karya, kondisi koral dan karang di Semak Daun lebih sehat dan beragam. Dengan acuan reef berada di kanan, kami memulai peyelaman.

Pemandu kami Pak Lupus menunjukkan seekor murray eel melalui isyarat tangan membuka dan menutupkan jemarinya, namun ketika saya hendak melihat, si murray eel sudah tertutup oleh pasir yang tersibak karena seekor ikan pari yang tengah bersembunyi di balik karang terbangun dengan kaget ketika saya mendekat.

Arus di titik ini cukup ringan, tapi tetap membuat saya sedikit terengah. Setelah 45 menit di bawah, kami pun naik ke permukaan. Penyelaman terdalam saya mencapai 18 meter dengan rata-rata penyelaman saya berada di 15 meter. Dive log saya pun bertambah menjadi 24!

Saat pulang dan kapal mengarah ke Pulau Pramuka, tiba-tiba ada teriakan, “lumba-lumba!”. Semua pun menengok ke arah telunjuk tangan dari si sumber suara. Kapal pun dipelankan. Benar saja beberapa ekor lumba-lumba tampak berloncatan di kejauhan di sekitar Pulau Karya. Beberapa kali terlihat sirip atasnya muncul di permukaan sebelum kembali terbenam.

Galeri Foto

Muhammad Zamroni

pengembang web • penyelam scuba • pejalan pemula • peminat perangkat

Jakarta, Indonesia

6 komentar

Artikel ini ditayangkan pada 16 Juli 2012, sekitar 5 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

ceritaeka@gmail.com

16 Juli 2012 20:15

Jadi kalau di Semak Daun harus diving ya? Ndak bisa snorkling?
Keknya kapan hari aku ke Semak Daun bisa snorkling deh *apa aku kesilep nama pulaunya ya?* :D

suprie

17 Juli 2012 15:31

Gw pengen latian bouyancy!! Bouyancy control gw masih ancut

dinda

24 Juli 2012 10:20

beuuhhh.. pemberat 2 kiloooooo.... sedap. dapet salam dari yang masih pake berkilo2 pemberat :D.

Raka

17 Desember 2013 13:55

Gw pake pemberat 3Kg aja masih belum mau turun apalagi 2Kg :( tapi emang sih saat itu gw lagi diving in Bali di nusa penida yang airnya dingin jadi harus pake wetsuit yang sedikit lebih tebal :D

nonadita

11 Januari 2015 22:21

Kemarin ada yg ketangkep camping sambil bawa ganja nih di sini.,.

nonadita

11 Januari 2015 22:22

Ini komentar ke-SERIBU!!

Yihaaa.. :mrgreen:

Statistik

Telah dibaca 535 kali. Waktu baca rata-rata 5 menit. Ada 6 komentar.