Mengukir Harapan, Menganyam Masa Depan Ujung Kulon

Artikel ini ditayangkan pada 18 Juni 2012, sekitar 5 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

Badan saya masih terasa terguncang setelah semalaman berada dalam perjalanan menuju Kampung Cinibung, Desa Kertajaya, Kec. Sumur, Pandeglang, Banten, Sabtu, 16 Juni 2012. Kondisi jalan rusak berbatu serta menerbangkan debu kering saat dilintasi ini menambah kesan sulitnya akses menuju desa-desa di area penyangga Taman Nasional Ujung Kulon.

jalan rusak menuju Ujung Kulon jalan rusak menuju Ujung Kulon

Bersama tim dari WWF Indonesia, saya berkesempatan mengunjungi beberapa desa di kawasa penyangga Taman Nasional Ujung Kulon untuk melihat aktivitas ekonomi masyarakatnya.

Meski hidup dalam keterbatasan, tak menyurutkan harapan masyarakat yang menjadi garda terdepan pelestarian kawasan rumah badak ini. Jika sebelumnya masayarakat yang tinggal di area penyangga terbiasa bertani, sejak ditetapkannya kawasan Gunung Honje menjadi kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon pada tahun 1995, mereka pun harus mencari mata pencaharian lain.

Armat Fauzi Ridwan, salah satunya. Pria berumur 34 tahun ini mulai merintis usaha kerajinan patung badak di Kampung Cinibung sejak 25 Juni 1995 sebagai mata pencaharian lain. Tantangan yang dihadapinya tidaklah mudah, yaitu pemasaran dan tenaga kerja.

Mencari tenaga pengrajin tidak semudah yang dibayangkan. Melatih belasan pemuda desa yang sebelumnya terbiasa bertani untuk memahat, menuntut kesabaran dan ketekunan. Tak jarang, beberapa pemuda menyerah karena merasa tidak mempunyai bakat.

Belum lagi penghasilan yang diperoleh, sekitar 500 ribu hingga satu juta rupiah per bulan, kurang mencukupi kebutuhan. Apalagi pekerjaan ini hanya dilakukan jika ada pesanan. Itu pun bila jumlah pesanan dan waktu pengerjaannya cocok, jika tidak maka akan kewalahan memenuhi permintaan.

Amat Sudrajat, membuat kerajinan teko dari batok kelapa Amat Sudrajat, membuat kerajinan teko dari batok kelapa

Bahan baku meski bisa ditemukan dengan mudah, yakni sisa-sisa kayu yang tak terpakai, kadang menjadi kendala ketika permintaan kerajinan meningkat. Tak jarang mereka harus merelakan pepohonan mahoni dan kecapi dari ladang mereka sendiri untuk dipotong dan dijadikan bahan baku kerajinan.

Mereka tidak pernah menyentuh pepohonan yang berada di dalam kawasan konservasi, meski ironisnya beberapa ladang dan lahan mereka masuk ke dalam area konservasi karena memang sebelumnya kawasan Gunug Honje adalah kawasan hutan produksi yang dikelola oleh Perhutani.

Kami pun berpindah ke Kampung Cikaung, Desa Ujungjaya, Kec. Sumur, Pandeglang, Banten, desa paling ujung barat di Pulau Jawa dan berbatasan langsung dengan taman nasional, untuk melihat aktivitas kerajinan lain yaitu anyaman daun pandan dan batok kelapa.

Kami menemui Ajat Sudrajat, kakek berusia 63 tahun yang tengah menghaluskan teko yang terbuat dari batok kelapa. “Baru dua bulan saya bikin ini,” ujarnya.

Teko yang dibuat Ajat memang unik. Di bagian ujung teko terdapat semacam cula yang menjadi ciri khas badak. “Idenya muncul begitu saja, karena Ujung Kulon kan terkenal dengan badak,” ujarnya ketika ditanya tentang cula teko tersebut.

Butuh waktu 2 minggu untuk menghasilkan sebuah teko. Bahan baku adalah kendala utama karena kelapa yang diambil adalah kelapa yang tua dan untuk bagian ujungnya, dibutuhkan kelapa khusus berbentuk lonjong yang jarang ditemukan. Selain itu, dia hanya dibantu oleh seorang teman untuk menghaluskan dan membuat ornamen-ornamen berbentuk badak.

hasil kerajinan anyaman bambu masyarakat Desa Ujungjaya hasil kerajinan anyaman bambu masyarakat Desa Ujungjaya

Tak jauh dari rumah Ajat, kami menuju ke rumah Nur, perempuan berusi 26 tahun yang tengah menganyam tas kecil dari daun pandan. Daun pandan memang mudah ditemukan di daerah ini karena pandan adalah salah satu tanaman tepi pantai.

Proses pembuatannya juga melalui waktu yang lama. Pengeringan dengan menjemur di bawah terik matahari memakan waktu cukup lama. “Kalo panas, bisa 2 hari (agar daun kering),” ujar Nur.

Hasil kerajinan masyarakat di area penyangga kawasan Taman Nasional Ujung Kulon sebenarnya berkualitas bagus. Kendala produksinya antara lain pengerjaannya yang menggunakan alat sederhana sehingga membutuhkan waktu yang lama, hingga kendala distribusi dan pemasaran.

Harapan mereka ke depan adalah ada semacam toko untuk menampung dan menjual hasil kerajinan mereka sehingga pengunjung juga bisa dengan mudah membeli berbagai cinderamata hasil kerajinan masayarakat. Pelatihan-pelatihan dan bantuan berupa peralatan kerja juga bisa meningkatkan hasil produksi kerajinan.

Namun jika dilihat lebih mendasar, hal yang perlu diperbaiki adalah infrastruktur dan akses jalan ke desa-desa ini perlu diperbaiki terlebih dulu. Dengan adanya jalan yang bagus, tentu akan memperlancar distribusi ekonomi yang ujung-ujungnya akan mengangkat kesejahteraan masyarakat itu sendiri.

Setelah jalan, akses internet juga bisa menjadi katalisator. Menjual produk lewat internet bisa dikatakan lebih mudah dan murah. Bahkan hanya dengan berbekal halaman Facebook, usaha penjualan online juga sudah cukup marak, bukan? Tentunya ini harus diimbangi dengan peningkatan pengetahuan dan wawasan masyarakat tentang teknologi serta kapasitas produksi yang memadai.

Dengan segala keterbatasannya, masyarakat desa di kawasan penyangga Taman Nasional Ujung Kulon, tetap berusaha menjaga kelestarian alamnya, terutama badak yang telah menjadi jiwa pencaharian hidup mereka, baik dari sektor wisata dan kerajinan.

Galeri Foto

Muhammad Zamroni

pengembang web • penyelam scuba • pejalan pemula • peminat perangkat

Jakarta, Indonesia

2 komentar

Artikel ini ditayangkan pada 18 Juni 2012, sekitar 5 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

jay boana

20 Juni 2012 15:24

mari kita mengukir badak jawa dan menganyamnya di dinding kita agar selalu ingat akan pelestarian badak jawa ini yah,

nice to meet you masbro :D

Mr. Sharz

30 September 2014 22:27

delapan tahun saya bermukim dan ber-metamorfosa dari pelancong menjadi warga lokal hingga terpaksa kembali ke kota karena tergusur efek krisis wisatawan akibat ulah teroris 2002. Belasan tahun berlalu, tak banyak yang berubah di sana kecuali tanah-tanah pantai yang telah berpindah tangan boss-boss dari Jakarta

Statistik

Telah dibaca 596 kali. Waktu baca rata-rata 6 menit. Ada 2 komentar.